2011-11-28
Oleh - Kang Salman

Dia ODHA Yang Luar Biasa

Dia ODHA Yang Luar Biasa
Advertisement:
Tahun lalu saya kedatangan tamu dari Yayasan Rumah Cemara yang secara khusus datang ke kampus kami. Orang yang datang tersebut menceritakan sepenggal kisahnya.

Awal mula saya terinfeksi virus HIV bermula dari penggunaan jarum suntik secara bergantian. beberapa bulan setelahnya saya cemas mendengar kabar orang meninggal karena virus HIV/AIDS, rasa takut menghatui pikiran saya sampai akhirnya saya pergi beranikan diri melakukan tes. Sampai akhirnya giliran saya tiba. Jantung saya bedetak kencang dalam serangkaian pemeriksaan tersebut. Beberapa saat kemudian setelah menunggu nama sayapun di panggil dengan wajah yang tidak biasa dokter tersebut berkata pada saya "kamu harus tabah ya", tangan sambil bergetar sayapun membuka isi amplop tersebut dan ternyata benar kekawatiran saya selama ini, rasa sakit hati mendalam terasa ngilu, dokter berusaha memotivasi dan mendorong saya untuk tegar dan berdiri tegap.

Perjuangan saya menghadapi kucilan dan cacian masyarakat belum lagi trauma yang dalam membekas dihati saat tangan Ayah mendarat di pipi kiri dan kanan berkali-kali, ketika tau saya tertular virus HIV, dalam semprotan marah yang saya terima, Ibu hanya menangis dengan nasib yang saya hadapi. Pernah terlintas dibenak saya untuk bunuh diri dengan meminum obat sakit kepala sebanyak-banyaknya sampai suatu ketika Ibu menemukan saya di gudang penyimpanan beras terkapar dengan mulut berbusa. Dengan sekuat tenaga kedua orang tua dan adik-adik saya mengantar saya ke rumah sakit.

Saat tersadar saya melihat Ibu menangis disamping tempat tidur dan berkata pada saya untuk tidak melakukan hal bodoh dan tetap dihidup tak peduli apapun orang bicara. Melihat air mata Ibu yang terus jatuh saya menyesal melakukan hal bodoh di gudang belakang rumah beberapa hari lalu, mulai saat itu saya berjanji pada diri saya untuk tidak membuat Ibu menangis lagi. Ayah pun akhirnya tau dengan keadaanku bahwa virus ini  bukan saya dapatkan dari kehidupan liar dengan sesama jenis atau lawan jenis. Syukurlah akhirnya mereka mengerti dan menyadari dengan keadaanku

Demi kebaikan saya, kedua orang tua sayapun memutuskan untuk pindah rumah keluar dari kota tersebut untuk jalan hidup baru. Disini hidupku lebih baik dari sebelumnya karena tidak ada orang yang tau dengan keadaanku. Saya bisa pergi sekolah, saya bisa bermain, dan saya bisa tertawa bersama teman-teman yang baru. Namun bagaimanapun hati ini tidak bisa bohong dan saat pulang kerumah sesekali saya mengurung diri  dan menyesali perbuatan dimasa lalu. Kadang saya membuka internet untuk mencari informasi dan obat-obatan untuk virus yang saya hadapi. Disana saya mengetahui kalau HIV/AIDS bukanlah sebuah penyakit tapi suatu virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang dapat merusak kekebalan tubuh dan memakan sel sel putih, sehingga berlanjut menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) Penyakit yang menyebabkan orang menjadi rentan terhadap tekena penyakit misalnya infeksi oportunistik atau mudah terkena kanker. Virus yang diperkirakan berasal dari benua Afrika pertama kali ditemukan tahun 1959 dan menjadi terkenal tahun 1981 di Amerika setelah ada laporan lima laki-laki homoseksual menderita AIDS.

Dalam pencarian saya di internet saya menemukan sebuah berita yang mengharukan, ialah "Ah Long" bocah berumur 6 tahun dari daratan Cina mengidap HIV.yang ditularkan langsung dari orang tuanya, terbuang, terkucil dari lingkungannya, bahkan neneknya sendiri tak mau merawatnya. Hidup sendiri mulai mandi, memasak, tidur, dan bermain. Aktivitas keseharian hanya ditemani seekor anjing, semangat dan berani menjalani kejamnya kehidupan, meski dalam tubuhnya mengidap virus HIV yang mungkin tidak diketahui dan diharapkannya. Anak sekecil itu menanggung beban hidup dari orangtuanya. Berita yang menggemparkan di Guangxi China tahun lalu. Setelah berita itu dimuat saya lihat di artikel-artikel lain banyak orang yang menawarkan diri untuk menjadi orang tua asuh bahkan sumbangan terus mengalir sampai sekarang semacam PMI disana.
Ah Long
 sumber gambar: blog.tsemtulku.com
Setelah membaca artikel tersebut hati saya luluh dan merasa malu pada diri sendiri, dimana saat ini saya bersedih dan menyesali hidup sedangkan bocah kecil Ah Long di Cina terus bersemangat menjalani hidupnya apalagi saya yang masih remaja. Mulai detik tersebut saya berjanji tidak akan menyesali hidup dan akan terus bersemangat menjalani hidup sebagaimana Magic Johnson

Kini saya tidak pernah mengurung diri lagi dan saya menjadi lebih baik.  Saya menjadi juara kelas, dan saya selalu menjadi pencetak gool di lapangan. Lihatlah! menjadi ODHA bukanlah akhir dari segalanya, saya masih bisa berprestasi dan berkarya. Siapa yang ingin terinfeksi HIV, saya juga gak mau. Saya pun ingin diperlakukan seperti yang lain, saya bukan penjahat yang perlu ditakuti dan dihindari, saya bukan pengemis yang minta dibelaskasihani. Saya manusia normal layaknya yang lain, hanya saja Virus HIV telah bersarang di darah ini, dan saya merasa baik-baik saja.

Saya serahkan hidup matiku kepada Allah SWT dan memohon kepada-Nya agar diberikan mukjizat semoga penyakitku dapat sembuh dan orang-orang yang peduli terhadapku saya doakan agar mereka diberikan kesehatan, kekuatan, dan keilmuan yang luas agar terus berupaya menanggulangi virus mematikan HIV. Dan sayapun berdoa kepada-Nya agar teman-teman dan orang-orang dilingkungan sekitar saya sadar bahwasanya ini bukan penyakit turunan, terkutuk, dan menakutkan.

Saya sangat percaya pada pemerintah dan dunia kalau mereka tidak akan tinggal diam tentang HIV/AIDS ini. Dan saya yakin bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, karena Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Hanya saja semua butuh waktu dan proses, selayaknya wabah penyakit malaria pada Perang Dunia I yang membunuh lebih dari 1 juta orang karena belum di temukan obatnya.

Saya tidak akan bersedih dan cengeng dengan mengurung diri di kamar, akan saya buktikan pada dunia kalau menjadi ODHA itu bukan sebuh kutukan. Lihat saya, inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah sepak bola internasional, Indonesia mengalahkan Belanda. Pada putaran kedua Homeless World Cup 2011, Indonesia menggilas Belanda 7-4.

Semangatku untuk berkreatifitas tidak akan mati dan akan kutularkan terus pada generasi selanjutnya.  Menjadi ODHA bukanlah sebuah pilihan tapi bukan juga menjadi sebuah kutukan.
Saya akan mewujudkan mimpi dan cita-cita saya serta menolong siapapun tanpa pamrih agar kenanganku dan semangatku tetap hidup.

Sumber Inspirasi :
Bandung - Jawa Barat




Catatan : Artikel ini opini penulis bukan kondisi penulis sebenarnya.

Jangan asal copy paste! baca aturannya disini
Advertisement:
Judul : Dia ODHA Yang Luar Biasa Deskripsi : Admin : Terbit Rating : 5 stars

  • Lifestyle