| Ilustrasi: SPG juga manusia |
Di Balik Keramahan dan Seragam Rapih SPG
Sebagian besar dari mereka itu berasal dari keluarga yang kelas ekonominya sedikit di atas garis kemiskinan. Orang tuanya tidak mampu mengkuliahkan mereka sehingga mereka memiliki waktu yang cukup panjang antara selesai sekolah dengan menunggu datangnya jodoh.
Memang, sebagian pramuniaga-pramuniaga itu bekerja sekedar mengisi waktu luang dan hasilnya hanya dipakai untuk senang-senang dia sendiri, tetapi tidak sedikit dari mereka yang menjadi penopang keluarga yang membelikan buku pelajaran dan pakaian sekolah adik-adiknya, membayarkan kontrakan yang dihuni keluarganya, bahkan membantu orangtua menafkahi keluarganya.
Mereka adalah perempuan-perempuan tegar, tidak cengeng dan enerjik. Ketidakmampuan orang tuanya membiayai kuliahlah yang membedakan mereka dengan wanita-wanita karir yang menjadi eksekutif itu. Mereka adalah pribadi-pribadi yang sadar bahwa meratapi nasib bukanlah jalan keluar untuk memperbaiki kehidupan.
Baca Selengkapnya:
http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/13/di-balik-keramahan-dan-seragam-rapih-spg/
www.kucoba.com















