Cerita Seram Kuntilanak Penunggu Pohon Beringin
Advertisement:
cerita seram kuntilanak penunggu pohon beringin, cerita seram kuntilanak
Kucoba.com - Sudah beberapa hari ini kegiatan kuliah memaksaku untuk pulang larut malam. Masih untung jika jam 9 malam sudah sampai di rumah. Seringnya sih jam 12 baru bisa membuka pintu rumah. Beruntungnya Ibu dan anggota keluarga lainnya tidak komplen atas kegiatan baruku ini. Aku ingin berbagi pengalaman mengenai cerita seram kuntilanak penunggu pohon beringin itu yang terus menerus ada di pikiranku.

Fakultas elektronika yang kupilih, nyatanya memang sesuai dengan bakat bawaan yang kumiliki. Dari satu fakultas, hanya aku yang lolos mengikuti kejuaraan elektronika tingkat nasional. Bagaimana tak bangga? Nah, hal ini pula yang menjadi penyebab aku pulang hingga larut. Waktu yang diberikan oleh panitia untuk merakit sebuah alat itu hanya satu minggu. Sementara aku butuh pendampingan dosen. Jadilah malam-malam selanjutnya kulalui di rumah dosen pembimbingku yang sangat baik hati.

Malam ini aku kembali pulang larut. Dengan mengendarai motor matic yang kupacu dengan kecepatan penuh.Jam tanganku sudah menjukkan pukul 11.30. Aku juga sudah sangat lelah. Rasanya ingin segera menikmati hangat kamar tidurku.

Keluar dari rumah dosen dengan badan pegal-pegal, sebenarnya membuatku ingin menumpang taksi saja. Bisa saja sebenarnya motor kutitipkan di rumah dosen. Tapi tidak enak juga. Sebab jika malam ini aku tidak membawa motor, besok bagaimana caraku berangkat kuliah.

Jalan masih ramai dengan lalu lalang mobil yang mencipta hinggar. Mengungguli suara-suara binatang malam. Aku terus memacu motorku dengan kecepatan tinggi. Melewati jalan yang perlahan tapi pasti, mulai sepi.

Dua gunung dan tiga tikungan lagi, aku akan sampai ke rumahku. Kompleks perumahanku memang menjadi sangat sepi ketika jam sudah mengarah ke jam 10. Itu artinya, keramaian sudah berhenti sejak hampir dua jam yang lalu. Jalan-jalan menuju rumahku nampak lengang. Kanan dan kirinya memang dipenuhi pohon rindang. Dulu, ketika pohon-pohon itu baru di tanam, aku sempat bertanya pada para tukang kebun kompleks. Kenapa yang ditanam harus pohon beringin. Kenapa tidak pohon mangga saja. Atau pohon kelapa saja. Atau pohon rambutan sajalah. Eh, bukan, pohon jeruk saja. Bukannya lumayan kalau sedang musim panen. Setidaknya ketika Aku pulang semalam ini, bisa mencicipi buah di pinggir jalan dulu. Gratisan kan…

Tapi para tukang itu malah menjawab bahwasannya, pohon beringin itu menyerap air. Bagus untuk mengendalikan volume air yang bisa saja tidak terukur dan menjadi penyebab banjir. Masuk akal memang. Sebab pohon beringin kalau sudah besar memang terkenal sangat rindang. Sejuk, adem dan nyaman dipakai untuk berteduh.

Ya, memang. DI kampusku juga banyak hidup pohon beringin yang rindang dan sangat nyaman dipakai untuk bersantai sembari menunggu waktu mata kuliah selanjutnya. Tentram rasanya. Apalagi si Ayu, anak Psikologi yang cantik itu sering nongkrong di sana. Wah, tambah sedap deh suasananya.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttt…………

Kurem mendadak motorku. Ada sesuatu yang terbang di hadapanku. Rasanya sesuatu yang melayang begitu saja seperti kain putih yang sangat panjang. Namun seketika menghilang.
Bulu kudukku berdiri tanpa kompromi. Hawa dingin berhembus di tengkukku yang tertutupi jamper. Sesegera mungkin kustarter motorku. Berkali kucoba dan hasilnya nihil. Motorku tidak bisa hidup. Padahal rumahku tinggal satu tikungan lagi. Dan naasnya lagi, motorku tidak bisa bergerak sedikitpun. Sudah kudorong sekuat tenaga dengan maksud menuntunnya sampai ke rumah. Tapi tak juga bisa menggerakkan rodanya.

Heran. Tidak ada yang mengganjalnya kok. Tapi mengapa ban motorku seperti tertanam di tanah dan tidak bisa bergerak sedikitpun. Keringat dingin mengucur deras begitu aku memandangi sekelilingku. Pohon beringin besar sekali. Dan mala mini terlihat sangat mencekam dan angker. Belum lagi suara binatang-binatang malam yang menambah kesan mistik itu begitu kentalnya.
Dalam hati aku berdzikir mengharapkan bantuan dari Tuhanku saja. Toh aku tidak mengganggu alam siapapun. Aku hanya lewat. Dan aku bahkan tidak pernah mengalami hal ini sebelum-sebelumnya.

Sekali dua kali kembali kucoba mengendalikan motorku. Berharap ia bisa bergerak. Nyatanya sia-sia. Kukumpulkan keberanianku dan membaca do’a dan ayat-ayat perlindungan dengan suara yang lantang. Ajaib! Motorku bisa bergerak, bahkan menyala dengan sendirinya.. Bergegas kunaiki motorku dan kupacu sekencang-kencangnya. Dari arah belakangku terdengar gelegar tawa wanita. Sekelebat bayangan putih kembali muncul di spion kiriku. Tak kupedulikan. Yang ku inginkan hanyalah. PULANG.
Advertisement:
Judul : Cerita Seram Kuntilanak Penunggu Pohon Beringin Deskripsi : Admin : Terbit Rating : 5 stars

  • Lifestyle